12 Contoh Teks Short StoryTelling Unik Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya
12 Contoh Teks Short StoryTelling Unik Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya

12 Contoh Teks Short StoryTelling Unik Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya

Posted on

12 Contoh Teks Short StoryTelling Unik Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya


Halo sobat IBI..

Pada kesempatann kali ini IBI akan membahas tentang Storytelling.

Storytelling adalah cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada para penyimak, baik dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, maupun suara. Storytelling sering digunakan dalam proses belajar mengajar utamanya pada tingkat pemula atau anak-anak. Teknik ini bermanfaat melatih kemampuan mendengar secara menyenangkan.

12 Contoh Teks Short StoryTelling Unik Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya
12 Contoh Teks Short StoryTelling Unik Dalam Bahasa Inggris Dan Artinya

Dibawah ini ada beberpa contoh short Storytelling dalam bahasa inggris dan artinya.


1. The Monkey and the Crocodile

The Monkey and the Crocodile
The Monkey and the Crocodile

It was a beautiful lake surrounded by lush green grasses, beautiful trees, mountains and sweetest, tastiest jamun trees. There lived a monkey on one of the jamun trees located near the lake.

The lake also had a few crocodiles. There was one crocodile that used to collect the jamun fruits from the lake that fall from the tree.

As the crocodile visits the jamun trees every day, it became friends with Monkey. Crocodile and monkey met every day. The monkey helped crocodile by providing more and fresh jamun fruits from the tree. Their relationship continued and they became close pals.

One day, the monkey asked the crocodile to give some jamun fruits to his wife and family as the fruits were more delicious. The crocodile agreed and took a lot of jamun fruits to his wife.

His wife was so happy and surprised that she never ate so delicious fruits, so far. She inquired her husband, where he got those fruits. The crocodile told her, his friend, monkey who lives in a Jamun tree gave these for him.

The wife crocodile made a plan in her mind. She asked her husband, ‘Does your friend eat these fruits every day?’ The crocodile replied yes. She added, ‘Oh my goodness. These are the sweetest fruits we ever ate. Imagine how delicious the monkey’s heart would be if he eat these fruits daily! I need the heart of your friend. Can you please bring it for me?’

The crocodile was shocked to hear it from his wife. He replied, ‘But he is my close friend. I can’t do this to him.’

The wife crocodile told him, ‘don’t worry. You bring him here. I will then take care! Or else, you may try to push him down into the water if he doesn’t know swimming!’

After a long time, the crocodile agreed to bring monkey to his wife.

The very next day, crocodile invited monkey to join them for lunch and asked for his favorite foods. Monkey happily agreed to be the guest and but worried that the monkey did not know how to swim in the lake.

Crocodile on thinking about monkey’s sorrow, pleased monkey and told him, ‘Don’t worry. I will carry you on my back and will take you back safely too!’

The monkey accepted and crocodile rode him to his home on his back on the water. As they reached half way, the crocodile tried to push monkey down into the water. However, monkey held the crocodile tightly and did not fall. Monkey got suspicious about crocodile’s act and asked him to tell the truth.

Since crocodile believed him as his good friend, he told about the conversation and the fight his wife had with him and he was taking monkey to eat his heart!

The intelligent monkey said, ‘Oh my dear friend, you should have told me this earlier. I left my heart on one of the branches of the tree as I won’t carry it if I travel long. If you take me back, I can give you my heart.’

Crocodile accepted and rode the monkey back to the lake. As they reached the tree where the monkey lived, the monkey climbed quickly and escaped from the crocodile.

He shouted at crocodile, ‘I thought you as a good friend, but you cheated me. I will never come back and never be your friend.’

The crocodile understood his mistake and returned back home empty handed, losing a good friend indeed

Terjemahan:

Itu adalah sebuah danau yang indah, dikelilingi oleh rumput hijau yang subur, pohon-pohon yang indah,gunung dan POHON jamun manis, paling lezat. Hiduplah monyet di salah satu pohon jamun terletak di dekat Danau.

Danau ini juga memiliki beberapa buaya. Ada satu buaya yang digunakan untuk mengumpulkan buah-buahan jamun dari danau yang jatuh dari pohon.

Seperti buaya Mengunjungi pohon jamun setiap hari, itu menjadi teman dengan monyet. Buaya dan monyetbertemu setiap hari. Monyet membantu buaya dengan menyediakan lebih banyak dan segar jamun buahdari pohon. Hubungan mereka berlanjut dan mereka menjadi teman-teman dekat.

Suatu hari, monyet bertanya buaya untuk memberikan jamun beberapa buah-buahan untuk istri dankeluarga sebagai buah yang lebih lezat. Buaya setuju dan mengambil banyak jamun buah-buahan kepadaistrinya.

Istri nya begitu bahagia dan terkejut bahwa ia tidak pernah makan buah-buahan begitu lezat, sejauh ini. Diabertanya suaminya, di mana ia mendapat buah-buah itu. Buaya mengatakan dia, teman, monyet yangtinggal di sebuah pohon Jamun memberikan ini untuknya.

istri buaya membuat rencana dalam pikirannya. Dia bertanya kepada suaminya, ‘Apakah teman Andamakan buah-buahan ini setiap hari?’ Buaya menjawab ya. Ia menambahkan, ‘ Oh Ya ampun. Ini adalah buah-buahan manis yang pernah kita makan. Bayangkan bagaimana lezat jantung monyet jika ia makan buah-buahan ini setiap hari! Aku butuh jantung teman Anda. Dapat Anda silakan membawa itu bagi saya?’

Buaya terkejut mendengar dari istrinya. Ia menjawab, ‘ tapi dia teman dekat saya. aku tidak dapatmelakukan ini kepadanya.’

istri buaya berkata kepadanya, ‘ jangan khawatir. Anda membawa dia di sini. Saya mengambil kendali!Atau, Anda dapat mencoba untuk mendorong dia ke air jika ia tidak tahu kolam!’

Setelah waktu yang lama, buaya sepakat untuk membawa monyet kepada istrinya.

Keesokan harinya, buaya diundang monyet untuk bergabung dengan mereka untuk makan siang danmeminta makanan favorit nya. Monyet bahagia setuju untuk menjadi tamu tetapi khawatir bahwa monyettidak tahu bagaimana untuk berenang di danau.

Buaya  berpikir tentang kesedihan monyet, monyet dengan gembira dan berkata kepadanya, ‘ jangankhawatir. Aku akan membawa Anda di punggung saya dan akan membawa Anda kembali dengan aman !

Monyet diterima dan buaya naik dia ke rumahnya di punggungnya di atas air. Mereka mencapai setengahjalan, buaya berusaha menekan monyet ke dalam air. Namun, monyet berpegangan erat dan tidak jatuh.Monyet  curiga tentang undang-undang buaya dan memintanya untuk mengatakan kebenaran.

Sejak buaya percaya dia sebagai sahabatNya, ia menceritakan percakapan bersama istrinya yang akan memakan hatinya

Monyet cerdas berkata, ‘ Oh teman ku sayang, Anda harus nya mengatakan kepada saya sebelumnya. Akumeninggalkan hatiku di salah satu cabang-cabang pohon karena saya tidak akan membawa itu jika sayamelakukan perjalanan panjang. Jika Anda membawa saya kembali, saya dapat memberikan hati saya.’

Buaya terima dan monyet naik kembali ke danau. Mereka mencapai pohon tempat tinggal monyet, monyetnaik dengan cepat dan melarikan diri dari buaya.

Dia berteriak buaya, ‘ saya pikir Anda sebagai teman yang baik, tetapi Anda menipu saya. Saya tidak akanpernah datang kembali dan tidak pernah menjadi teman Anda.’

 Buaya memahami kesalahannya dan pulang dengan tangan kosong, ia kehilangan teman baiknya.


 2. The Crow and The Eagle

The Crow and The Eagle
The Crow and The Eagle

There lived a crow on a tree top. Everyday he used to watch with utter wonder the acts of an eagle.The eagle had a nest high up on a mountain. He used to swoop down from there to get hold of a lamb and fly up again and all in one go.The crow was amazed by the feat of the eagle.One day he was so excited that he wanted to imitate the eagle. So up he flew as high as he could. From there he began to swoop down. He came down and down. But alas, he could not control himself. He crashed on the ground and broke his beak.

Terjemahan

Gagak dan Elang

 Hiduplah gagak di atas pohon. Setiap hari ia digunakan untuk menonton dengan mengucapkan herantindakan elang.
Elang memiliki sarang tinggi di gunung. Ia digunakan untuk menukik dari sana untuk mendapatkan seekordomba dan terbang lagi dan terus seperti itu
Gagak kagum dengan prestasi elang.
Suatu hari ia  begitu gembira bahwa ia ingin meniru elang. Jadi ia terbang tinggi sebisanya. Dari sana iamulai menukik. Dia datang turun. Tapi sayangnya, dia tidak bisa mengendalikan diri. Ia jatuh pada tanah danpecah paruhnya.

 3. The Cactus

The Cactus
The Cactus

The most notable thing about Time is that it is so purely relative. A large amount of reminiscence is, by common consent, conceded to the drowning man; and it is not past belief that one may review an entire courtship while removing one’s gloves.

That is what Trysdale was doing, standing by a table in his bachelor apartments. On the table stood a singular-looking green plant in a red earthen jar. The plant was one of the species of cacti, and was provided with long, tentacular leaves that perpetually swayed with the slightest breeze with a peculiar beckoning motion.

Trysdale’s friend, the brother of the bride, stood at a sideboard complaining at being allowed to drink alone. Both men were in evening dress. White favors like stars upon their coats shone through the gloom of the apartment.

As he slowly unbuttoned his gloves, there passed through Trysdale’s mind a swift, scarifying retrospect of the last few hours. It seemed that in his nostrils was still the scent of the flowers that had been banked in odorous masses about the church, and in his ears the lowpitched hum of a thousand well-bred voices, the rustle of crisp garments, and, most insistently recurring, the drawling words of the minister irrevocably binding her to another.

From this last hopeless point of view he still strove, as if it had become a habit of his mind, to reach some conjecture as to why and how he had lost her. Shaken rudely by the uncompromising fact, he had suddenly found himself confronted by a thing he had never before faced –his own innermost, unmitigated, arid unbedecked self. He saw all the garbs of pretence and egoism that he had worn now turn to rags of folly. He shuddered at the thought that to others, before now, the garments of his soul must have appeared sorry and threadbare. Vanity and conceit? These were the joints in his armor. And how free from either she had always been–But why–

As she had slowly moved up the aisle toward the altar he had felt an unworthy, sullen exultation that had served to support him. He had told himself that her paleness was from thoughts of another than the man to whom she was about to give herself. But even that poor consolation had been wrenched from him. For, when he saw that swift, limpid, upward look that she gave the man when he took her hand, he knew himself to be forgotten. Once that same look had been raised to him, and he had gauged its meaning. Indeed, his conceit had crumbled; its last prop was gone. Why had it ended thus? There had been no quarrel between them, nothing–

For the thousandth time he remarshalled in his mind the events of those last few days before the tide had so suddenly turned.

She had always insisted upon placing him upon a pedestal, and he had accepted her homage with royal grandeur. It had been a very sweet incense that she had burned before him; so modest (he told himself); so childlike and worshipful, and (he would once have sworn) so sincere. She had invested him with an almost supernatural number of high attributes and excellencies and talents, and he had absorbed the oblation as a desert drinks the rain that can coax from it no promise of blossom or fruit.

As Trysdale grimly wrenched apart the seam of his last glove, the crowning instance of his fatuous and tardily mourned egoism came vividly back to him. The scene was the night when he had asked her to come up on his pedestal with him and share his greatness. He could not, now, for the pain of it, allow his mind to dwell upon the memory of her convincing beauty that night–the careless wave of her hair, the tenderness and virginal charm of her looks and words. But they had been enough, and they had brought him to speak. During their conversation she had said:

“And Captain Carruthers tells me that you speak the Spanish language like a native. Why have you hidden this accomplishment from me? Is there anything you do not know?”

Now, Carruthers was an idiot. No doubt he (Trysdale) had been guilty (he sometimes did such things) of airing at the club some old, canting Castilian proverb dug from the hotchpotch at the back of dictionaries. Carruthers, who was one of his incontinent admirers, was the very man to have magnified this exhibition of doubtful erudition.

But, alas! the incense of her admiration had been so sweet and flattering. He allowed the imputation to pass without denial. Without protest, he allowed her to twine about his brow this spurious bay of Spanish scholarship. He let it grace his conquering head, and, among its soft convolutions, he did not feel the prick of the thorn that was to pierce him later.

How glad, how shy, how tremulous she was! How she fluttered like a snared bird when he laid his mightiness at her feet! He could have sworn, and he could swear now, that unmistakable consent was in her eyes, but, coyly, she would give him no direct answer. “I will send you my answer to-morrow,” she said; and he, the indulgent, confident victor, smilingly granted the delay. The next day he waited, impatient, in his rooms for the word. At noon her groom came to the door and left the strange cactus in the red earthen jar. There was no note, no message, merely a tag upon the plant bearing a barbarous foreign or botanical name. He waited until night, but her answer did not come. His large pride and hurt vanity kept him from seeking her. Two evenings later they met at a dinner. Their greetings were conventional, but she looked at him, breathless, wondering, eager. He was courteous, adamant, waiting her explanation. With womanly swiftness she took her cue from his manner, and turned to snow and ice. Thus, and wider from this on, they had drifted apart. Where was his fault? Who had been to blame? Humbled now, he sought the answer amid the ruins of his self-conceit. If–

The voice of the other man in the room, querulously intruding upon his thoughts, aroused him.

“I say, Trysdale, what the deuce is the matter with you? You look unhappy as if you yourself had been married instead of having acted merely as an accomplice. Look at me, another accessory, come two thousand miles on a garlicky, cockroachy banana steamer all the way from South America to connive at the sacrifice–please to observe how lightly my guilt rests upon my shoulders. Only little sister I had, too, and now she’s gone. Come now! take something to ease your conscience.”

“I don’t drink just now, thanks,” said Trysdale.

“Your brandy,” resumed the other, coming over and joining him, “is abominable. Run down to see me some time at Punta Redonda, and try some of our stuff that old Garcia smuggles in. It’s worth the, trip. Hallo! here’s an old acquaintance. Wherever did you rake up this cactus, Trysdale?”

“A present,” said Trysdale, “from a friend. Know the species?”

“Very well. It’s a tropical concern. See hundreds of ’em around Punta every day. Here’s the name on this tag tied to it. Know any Spanish, Trysdale?”

“No,” said Trysdale, with the bitter wraith of a smile–“Is it Spanish?”

“Yes. The natives imagine the leaves are reaching out and beckoning to you. They call it by this name–Ventomarme. Name means in English, ‘Come and take me.'”

 

Terjemahan

Kaktus

Hal yang paling penting tentang waktu adalah bahwa begitu murni relatif. Sejumlahbesar kenang-kenangan adalah, dengan persetujuan umum, mengakui kepada orang tenggelam; dan itu tidak melewati keyakinan bahwa seseorang dapat meninjau pacaran seluruh sementara menghapus salah satu sarung tangan.

Itulah apa Trysdale adalah melakukan, berdiri dengan meja di apartemen sarjana nya. Di atas meja berdiri tanaman hijau yang tampak tunggal dalam stoples tanah merah. Tanaman adalah salah satu jenis kaktus, dan diberikan dengan daun panjang, tentacular yang terus-menerus bergoyang dengan angin sedikit pun dengan aneh memanggil gerak.

Trysdale’s teman, saudara perempuan, berdiri di bufet mengeluh di diizinkan untukminum sendirian. Kedua orang itu di gaun malam. Putih nikmat seperti bintang atasmantel mereka bersinar melalui kesuraman apartemen.

Ketika ia perlahan-lahan membuka kancing sarung tanganNya, tidak melewati melalui pikiran Trysdale’s swift, scarifying retrospeksi dari beberapa jam terakhir. Tampak dalam hidungnya itu masih aroma bunga-bunga yang telah membelok berbau massa tentang gereja, dan telinganya lowpitched dengung seribu baik dibesarkan suara, gemeresik pakaian renyah, dan, paling terus-menerus berulang, kata-kata drawling Menteri bulat mengikat dirinya ke yang lain.

Dari terakhir putus asa pandang ini ia masih berjuang, seolaholah itu telah menjadikebiasaan pikirannya, untuk mencapai beberapa dugaan tentang mengapa dan bagaimana ia telah kehilangan dirinya. Terguncang kasar oleh fakta tanpa kompromi, iatiba-tiba menemukan dirinya berhadapan dengan hal yang ia belum pernah terjadisebelumnya telah menghadapiunbedecked diri sendiri terdalam, sejati dan gersang. Dia melihat semua garbs puraan dan egoisme yang ia telah dipakai sekarang beralih ke kain kebodohan. Ia shuddered saat berpikir bahwa orang lain, sebelum sekarang, pakaian jiwanya harus telah muncul Maaf dan tipis. Kesombongan dan kesombongan? Ini adalah sendi di baju besi nya. Dan bagaimana bebas dari baik dia selalu–tapi mengapa–

Ketika dia telah perlahan-lahan bergerak menyusuri lorong ke altar ia merasa tidak layak, cemberut kemegahan yang telah bertugas untuk mendukungnya. Dia telah mengatakan sendiri bahwa dia pucat dari pikiran lain daripada orang kepada siapa iaadalah memberikan dirinya. Tetapi bahkan penghiburan bahwa miskin telah merenggut darinya. Ketika ia melihat bahwa swift, jernih, ke atas terlihat bahwa dia memberikan pria ketika ia mengambil tangannya, dia tahu dirinya untuk dilupakan. Setelah itu terlihat sama dibesarkan kepadanya, dan dia telah diukur maknanya. Memang, kesombongan nya telah runtuh; prop yang terakhir sudah pergi. Mengapa itu berakhirdengan demikian? Telah ada perselisihan antara mereka, tidak ada–
Untuk membuat waktu ia remarshalled dalam pikirannya peristiwa yang terakhir beberapa hari sebelum gelombang telah begitu tiba-tiba berubah.
Dia selalu bersikeras setelah menempatkan dia atas sebuah alas, dan ia telah menerima penghormatan dia dengan kemegahan royal. Sudah sangat ukupan yang ia telah membakar sebelum dia; begitu sederhana (katanya pada diri sendiri); begitu kekanak-kanakan dan memuja, dan (dia akan sekali telah dilantik) begitu tulus. Dia telahdiinvestasikan dia dengan jumlah atribut yang tinggi dan rajani dan bakat yang hampir supranatural, dan ia telah diserap persembahan khusus seperti padang pasir yang menghisap air hujan yang dapat membujuk dari itu tidak ada janji mekar atau buah.
Sebagai Trysdale muram menariknya terpisah lapisan dalam sarung tangan terakhir,contoh mahkota nya dungu dan tardily ditanggapi egoisme datang dengan jelas kembali kepadanya. Adegan adalah malam ketika dia meminta dia untuk datang padanya alas dengannya dan berbagi kebesarannya. Dia tidak dapat, sekarang, untuk rasa sakit itu, membiarkan pikiran untuk diam di atas memori kecantikannya meyakinkan malam itugelombang ceroboh rambutnya, kelembutan dan perawan pesona terlihat dan kata-kata. Tetapi mereka telah cukup, dan mereka telah membawanya untuk berbicara. Selama percakapan mereka dia berkata:
“Dan Kapten Carruthers memberitahu saya bahwa Anda berbicara bahasa Spanyol seperti penduduk asli. Mengapa Anda memiliki tersembunyi prestasi ini dari saya? Apakah ada sesuatu yang Anda tidak tahu?”
Sekarang, Carruthers adalah seorang idiot. Tidak diragukan lagi dia (Trysdale) telahbersalah (dia kadang-kadang melakukan hal-hal seperti) dari ditayangkan di club tua, canting Kastilia pepatah digali dari bauran belakang Kamus. Carruthers, yang adalah salah satu pengagum BESER nya, adalah orang sangat telah diperbesar pameranini pengetahuan diragukan.
Tapi, sayangnya! ukupan kekaguman padanya telah begitu manis dan menyanjung.Dia mengizinkan tuduhan lulus tanpa penolakan. Tanpa protes, ia diperbolehkan membelitkan tentang dahinya Teluk ini palsu Spanyol beasiswa. Ia membiarkannya rahmat kepalanya penakluk, dan di antara convolutions yang lembut, ia tidak merasa tusukan duri yang menusuk Dia kemudian.
Bagaimana senang, bagaimana pemalu, bagaimana tremulous dia adalah! Bagaimana dia terbang seperti burung snared ketika ia meletakkan keagungan nya di kakinya! Ia berani bersumpah, dan ia bersumpah sekarang, bahwa izin yang jelas di matanya, tetapi, malu-malu, dia akan memberikan dia ada jawaban langsung. “Aku akan mengutus saya jawaban esok mereka,” katanya; dan dia, victor memanjakan, percaya diri, smilingly diberikan penundaan. Hari berikutnya ia menunggu, sabar, Kamar nyauntuk kata. Pada siang hari dirinya laki-laki keluar dari pintu dan meninggalkan kaktus aneh di jar tanah merah. Ada catatan tidak, tidak pesan, hanya sebuah tag pada tanaman bantalan nama asing atau botani yang biadab. Dia menunggu sampai malam, tetapi jawabannya tidak datang. Kebanggaan besar dan terluka kesombongan menahannya dari mencari dirinya. Dua malam kemudian mereka bertemu pada makan malam. Salam mereka yang konvensional, tapi dia memandang dia, terengah-engah, bertanya-tanya, bersemangat. Dia adalah sopan, bersikeras, menunggu penjelasannya. Dengan kecepatan feminin dia mengambil dengan isyarat dari cara Nya, danberalih ke salju dan es. Dengan demikian, dan lebih luas dari ini, mereka telah terpisah. Mana Apakah kesalahannya? Yang telah untuk menyalahkan? Merendahkan sekarang, ia mencari jawabannya di tengah-tengah reruntuhan nya kesombongan diri.Jika–
Suara orang lain di Kamar, querulously mengganggu atas pikirannya, terangsang nya.
“Saya katakan, Trysdale, apa deuce adalah masalah dengan Anda? Anda terlihat bahagia seolaholah Anda sendiri telah menikah bukan bertindak hanya sebagai kaki tangan. Melihat saya, aksesori lain, datang dua ribu mil pada sebuah kapal yang berbau bawang putin, cockroachy pisang sepanjang jalan dari Amerika Selatan ke berkomplot di korban–Harap untuk mengamati bagaimana ringan rasa bersalah saya bersandar pada bahu saya. Adik kecil hanya aku, juga, dan sekarang dia pergi. Datang sekarang! mengambil sesuatu untuk meringankan hati nurani Anda.”
“Saya tidak minum sekarang, terima kasih,” kata Trysdale.
“Anda brendi,” kembali yang lain, datang dan bergabung dengan dia, “orang-orangan. Lari ke bawah untuk melihat saya beberapa waktu di Punta Redonda, dan mencoba beberapa barang-barang kami yang lama Garcia menyelundupkan di. It’sworth, perjalanan. Hallo! Berikut adalah kenalan lama. Dimanapun Apakah Anda menyapu up ini Kaktus, Trysdale?”
“A saat ini,” kata Trysdale, “dari seorang teman. Tahu spesies?”
“Sangat baik. Ini adalah keprihatinan tropis. Melihat ratusan ’em di sekitar Punta setiap hari. Berikut adalah nama tag ini terikat padanya. Tahu setiap Spanyol, Trysdale?”
“Tidak,” kata Trysdale, dengan hantu pahit dari senyum-“Apakah Spanyol?”
“Ya. Penduduk asli bayangkan daun mengulurkan tangan dan memanggil Anda. Mereka menyebutnya dengan nama ini–Ventomarme. Nama berarti dalam bahasa Inggris, ‘Datang dan membawa saya.’ “

4.The Dog and The Cows

The Dog and The Cows
The Dog and The Cows

The cows used to eat hay from the manger. One day a herd of cows came to the manger to eat hay. They saw a dog lying on the hay in the manger.One of the cows pleaded, “Please, will you get up! We are hungry. We have to eat our hay”. The dog did not take heed of it.

Once again another cow pleaded, “Please, let us have our hay”. The dog snarled and the cow stepped back.

A wise cow ran up to the bull and told him the matter.

The bull came and requested, “Get out, please! Let them have their food”. There was no reply. The bull became angry. He bellowed loudly and stamped his legs. The dog got frightened and ran for his life.

Terjemahan
Sapi yang digunakan untuk makan jerami dari palungan. Satu hari kawanan sapi datang ke palungan untukmakan jerami. Mereka melihat seekor anjing yang berbaring di atas jerami di dalam palungan.
Salah satu sapi memohon, “Silakan, engkau akan bangun! Kami sangat lapar. Kita harus makan jeramikami”. Anjing tidak mengambil pelajaran dari itu.
Sekali lagi memohon sapi yang lain, “Tolong, beritahu kami memiliki jerami kami”. Anjing geram dan sapimelangkah kembali.
Sapi bijaksana berlari ke lembu jantan dan menyuruhnya masalah.
Banteng datang dan meminta, “keluar, silakan! Biarkan mereka memiliki makanan mereka”. Ada tidak adajawaban. Lembu jantan menjadi marah. Dia berteriak keras dan dicap kakinya. Anjing mendapat ketakutandan berlari untuk hidupnya.

5. THE GOLDEN SLUG (KEONG MAS)

THE GOLDEN SLUG (KEONG MAS)
THE GOLDEN SLUG (KEONG MAS)

In the ancient time, lived a young man named Galoran. He was respected because of his wealth and honor. His parents were nobleman so he could live with luxury. However, he was very wasteful and every day just squandered the wealth of his parents.

One day, his parents died, but he did not care and continued to spend money as well as before. Because his life was so extravagant, all the treasure that he had was running out and he became an unemployed person. Many people sympathized with him and offered a job. But every time he got the job, he just dallied and it made him always be fired. Several months later, there was a wealthy widow who interested him. He married the widow and of course, he was very happy to be living in luxury again.

The widow had a daughter who was very diligent and clever to weave. Her name is Jambean, a beautiful girl and had been famous because of her weaving. However, Galoran did not like the girl, because the girl often scolded him because of his laziness. Finally, he threatened to torture and kill Jambean. He revealed the plan to his wife and the wife was very sad to hear of the threat.

Hearing the news, Jambean was very sad but she volunteered herself to be killed by her father. She told that she wanted to be dumped into a dam and did not burry under the ground after the death. The mother agreed and did all of her wants. In the dam, her body and head suddenly turned into the golden slugs.

Several years later, there are two widows who were looking for firewood. They were kindred, the first widow named Mbok Sambega Rondo and the second called Mbok Rondo Sembagil. When looking for the firewood in the jungle, they were very surprised because of finding the beautiful golden slugs. They brought it and maintained at home.

Once they brought the snails, there was always a miracle every day. Their kitchen was always filled with the delicious food when they came home from work. They were very surprised, and wanted to know the person who made those foods. They pretended to go to work and hid in the back of the house. A few moments later, there was a beautiful girl came from the inside of the conch and she began to cook the delicious meals.

Both widows then secretly held and did not let the girl to get into the snail anymore. The girl apparently was Jambean who had been killed by her father. Both widows then allowed her to stay with them. Because of their versatility in weaving, she got her famous back and made a handsome prince attracted. In the end, she married the prince and lived happily.
Terjemahan :

Keong Mas

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda yang bernama Galoran. Ia merupakan salah satu orang yang disegani karena mempunyai kekayaan dan kehormatan. Orang tuanya merupakan bangsawan sehingga ia dapat hidup dengan mewah. Namun, ia merupakan seseorang yang sangat boros dan setiap hari hanya menghambur-hamburkan harta orang tuanya.

Suatu hari, orang tuanya meninggal dunia namun ia tidak peduli dan terus menghabiskan uang seperti sebelumnya. Karena hidupnya begitu boros, maka harta yang ia miliki habis dan ia menjadi seorang pengangguran. Banyak warga yang iba terhadapnya, namun setiap kali ia mendapatkan pekerjaan, ia hanya bermalas-malasan dan membuat ia sering dipecat. Beberapa bulan kemudian, terdapat seorang janda kaya raya yang tertarik dengannya. Ia kemudian menikah dengan janda tersebut. Tentu saja, ia sangat senang karena bisa hidup mewah seperti sebelumnya.

Janda tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sangat rajin dan pandai menenun. Namanya  Jambean, seorang gadis yang tenunannya sangat indah dan terkenal di desa tersebut. Namun, Galoran tidak menyukai gadis tersebut, karena sang gadis selalu menegurnya karena selalu bermalas-malasan. Karena begitu benci dengan Jambean, ia mengancam akan menyiksa dan membunuhnya. Ia mengungkapkan rencana tersebut kepada istrinya dan sang istri sangatlah sedih mendengar ancaman tersebut.

Mendengar berita tersebut, Jambean sangat sedih namun ia merelakan dirinya dibunuh oleh sang ayah. Ia berpesan ketika ia telah meninggal, ia ingin agar mayatnya dibuang ke sebuah bendungan dan jangan dikubur di dalam tanah. Setelah meninggal, sang ibu memenuhi permintaan tersebut dengan membawa mayatnya ke bendungan dan menceburkannya. Di dalam bendungan, tubuh dan kepalanya berubah menjadi udang dan siput atau disebut sebagai keong dalam bahasa jawa.

Beberapa tahun kemudian, dua orang janda sedang mencari kayu bakar. Mereka adalah kakak beradik dengan nama Mbok Rondo Sambega dan Mbok Rondo Sembagil. Ketika sedang mencari kayu di hutan, mereka sangat terkejut karena menemukan keong dan siput yang berwarna emas serta sangat indah. Keduanya kemudian membawa keong dan siput tersebut untuk dipelihara di rumah.

Setelah mereka membawa siput tersebut dan menjadikannya sebagai hewan peliharaan, selalu ada keajaiban setiap hari. Dapur mereka selalu dipenuhi makanan lezat ketika mereka pulang dari bekerja. Mereka sangat heran, dan mereka ingin mengetahui siapa orang yang selalu membuat makanan lezat tersebut. Mereka berpura-pura pergi bekerja dan bersembunyi di belakang rumah. Beberapa saat kemudian, muncullah seorang gadis cantik dari dalam keong tersebut dan ia mulai memasak makanan-makanan lezat.

Kedua janda tersebut kemudian secara diam-diam memegang gadis tersebut dan tidak membiarkannya lagi untuk masuk ke dalam keong. Gadis itu ternyata adalah Jambean yang telah dibunuh oleh ayahnya. Kedua janda tersebut kemudian mengizinkan Jambean untuk tinggal bersama mereka. Karena kepandaiannya dalam menenun, ia sangat terkenal dan seorang pangeran tampan tertarik kepadanya. Pada akhirnya, ia menikah dengan pangeran dan hidup bahagia.


6.The Miser

The Miser
The Miser

A miser sold all things that he had to buy a lump made of gold, which he buried in a hole in the ground by the side of an old wall and went to look at daily. One of his workmen noted his frequent visits to the spot and determined to watch his movements. He soon uncovered the secret of the hidden treasure, and digging down, came to the lump of gold hidden by a miser, and stole it. On his next visit, the Miser, found nothing inside the hole and started to tear his hair and to make loud lamentations. A neighbor, looking at him overcome with grief and learning the cause, said, “Pray, do not grieve so; but go and put a stone in the hole, and imagine that the gold is still lying there. It will do to you quite the same act; for once the gold was there, you left it nothing, as you did not make the slightest use of it.”

Terjemahan

Si Pelit

Seorang yang kikir menjual seluruh benda yang ia miliki untuk membeli seongkah emas, yang dia timbun di sebuah lubang bawah  tanah di sisi dinding tua dan selalu dia lihat setiap hari. Salah satu pekerja nya kemudian bertanya – tanya tentang kebiasaan si Pelit yang sering berkunjung ke tempat itu dan bertekad untuk mengawasi gerak – geriknya. Tak lama setelah itu dia menemukan rahasia harta karun yang disimpan si Pelit, dan menggali hingga sampai ke bongkahan emas yang disembunyikan oleh si Pelit, dan mencurinya. Pada kunjungan berikutnya, si Pelit, tidak menemukan apa-apa di dalam lubang dan mulai menangis dan meratap dengan keras. Seorang tetangga, kemudian menatapnya dan mencoba mengatasi kesedihannya dan mempelajari penyebabnya, kemudian dia berkata, “Berdoalah, jangan bersedih begitu; Tapi pergi dan letakkan batu di dalam lubang, dan membayangkan bahwa emasmu masih ada di sana. Batu ini akan melakukan ke pada anda tindakan yang sama, karena pada waktu emas ada di sana, anda meninggalkannya begitu saja, karena anda tidak memanfaatkannya barang.


7. The Boy Who Cried Wolf

 

The Boy Who Cried Wolf
The Boy Who Cried Wolf

A shepherd-boy, who watched a group of sheep near a village, shocked out the villagers three or four times by screaming out, “Wolf! Wolf!” and when his neighbors were there to help him,he laughed at them for their pains.

However the Wolf, truly come at last. The Shepherd-boy, now really in danger, cried in an agony of terror: “Pray, please come and help me; the Wolf is approaching to kill the sheep”; but no one paid any attention to his cries, nor rendered any help. The Wolf, having no cause of scary, at his leisure lacerated or destroyed the whole sheep in group.

There is no believing  liars, even when they speak the truth.

Terjemahan

Anak Laki – Laki Yang Berteriak Serigala

Seorang anak gembala, yang melihat sekelompok domba di dekat sebuah desa, mengejutkanorang – orang di desadengan berteriak tiga atau empat kali, “Serigala! Serigala!” dan ketika tetangganya berada datang ke  sana untuk membantunya, dia menertawai  mereka yang dengan susah payah datang.

Akan tetapi, serigala benar-benar datang pada akhirnya. Anakg embala itu sekarang benar-benar dalam bahaya, menangis dalam penderitaankarena  terancam: ” Ya Tuhan,  datanglah dan bantu saya; Serigal semakin mendekat untuk  membunuh domba”; tapi tidak ada perhatian apapun atau bantuan yang datang untuk tangisannya; Serigala kemudian tanpa takut menyerang  seluruh domba milik pemuda yang ada dalam kelompok itu.

Tidak adayang  percaya dengan pembohong, bahkan ketika mereka berbicara kebenaran.


 

8. The Tortoise and the Hare

The Tortoise and the Hare
The Tortoise and the Hare

One day, there was the Hare which was once boasting of his speed before the other animals. “I have never been beaten,” he said arrogantly, “if i run with my full speed. I challenge everyone here to against me in a racing.”

The Tortoise replied quietly, “I will accept your challenge.”

“is that a  joke?” said the Hare again; “I could dance round you all the way from the start to the finish spot.”

“Keep your boasting till you win,” the Tortoise answered. “Shall we start?”

So a course was agreed and a starting point was made. at once The Hare darted almost out of sight, but soon he stopped and to show his contempt for the Tortoise, he  lay down to have a nap soundly. The Tortoise plodded on and plodded on as the time going, and when the Hare awoke from his nap, he was shocked to see the Tortoise just near the winning-post and could not run up in time to save the race.

Then the Tortoise said: “Slow but steady process will win the race.”

Terjemahan

Kelinci dan kura-kura

Suatu hari, ada seekor kelinci yang sedang membualtentang kecepatannya berlari dibandingkan hewan – hewan lain. “Saya tidak pernah terkalahkan,” katanya angkuh, “jika saya berjalan dengan kecepatan penuh saya.” Saya menantang semua orang di sini untuk melawan saya di arena  balap.”

     Kura-kura menjawab dengan tenang, “Aku akan menerima tantanganmu.”

     “Apakah ini lelucon?” kata Kelinci lagi; “Aku bisa menari mengelilingimu sepanjang jalan dari awal sampai titik finish.”

     “Teruslah membual sampai kamu menang,” jawab kura-kura. “Bagaimana kalau kita mulai?”

     Kemudian peerjanjian disepakati dan titik awal dibuat. Seketika si kelinci melesat hampir tidak terlihat, tapi ia kemudian berhenti dan menunjukkan penghinaan untuk kura – kura, ia berbaring untuk tidur siang dengan nyenyak. Seiring waktu berlalu, kura-kura terus berusaha dengan susah payah, dan ketika Kelinci terbangun dari tidur, ia terkejut melihat kura-kura telah mendekati titik kemenangan dan ia tidak bisa berlari dalam waktusesingkat itu memenangkan balapan.

     Kemudian Kura-kura berkata: “Proses yang lambat tapi stabil akan memenangkan perlombaan.”


9. The Wolf in Sheep’s Clothing

The Wolf in Sheep’s Clothing
The Wolf in Sheep’s Clothing

A Wolf experienced great difficulty in getting at the sheep owing to the vigilance of the shepherd and his loyal dogs. But in the morning it found the skin of a sheep that had been flayed and thrown aside, so it put it on over its own pelt and walked down among the sheep.

The Lamb that owned the sheep whose skin wore by the Wolf began to follow the Wolf in the Sheep’s clothing. So, leading the Lamb a apart, he soon made a meal off her – and not long after this he succeeded in deceiving the sheep, and eating hearty meals.

Our appearances are deceptive.

Terjemahan

Serigala Berbulu Domba

Seekor serigala sedang mengalami kesulitan besar dalam usahanya mendapatkan domba karena kewaspadaan sang penggembala dan anjing setianya. Tapi di pagi hari itu ia temukan kulit domba yang telah dikuliti dan dibuang, kemudian ia  menutupkan kulit itu pada tubuhnya dan berjalan di antara domba-domba itu.

     Anak dari domba yang kulitnya dikenakan olehserigala mulai mengikutinya.Kemudian,ia menggiring anak domba tersebut untuk terpisah dari kelompoknya, kemudian  dan tidak lama setelah itu dia berhasil menipu domba, dan mendapakan makanan yang lezat.

     Penampilan dapat  menipu.


10. Snow White

Snow White
Snow White

Once upon a time there lived a little, named Snow White. She lived with her aunt and uncle because her parents were died.

One day she heard her aunt and uncle talking about leaving Snow White in the castle because they wanted to go to America and they didn’t have enough money to take Snow White with them.

Snow White didn’t want her uncle and aunt to do this. So she decided to run away. The next morning she run away from home when her aunt and uncle were having breakfast, she run away into the wood.

In the wood she felt very tired and hungry. Then she saw this cottage. She knocked but no one answered so she went inside and felt asleep

Meanwhile seven dwarfs were coming home from work. They went inside. There, they found Snow White woke up. She saw the dwarfs. The dwarfs said; “What is your name?”. Snow White said; “My name is Snow White”. One of the dwarfs said; “If you wish, you may live here with us”. Snow White told the whole story about her. Then Snow white and the seven dwarfs lived happily ever after.

 

Terjemahan 

Putri Salju

Dahulu kala hiduplah sedikit , bernama Putri Salju . Dia tinggal bersama bibi dan pamannya karena orang tuanya meninggal.

Suatu hari ia mendengar bibi dan pamannya berbicara tentang meninggalkan Putri Salju di benteng karena mereka ingin pergi ke Amerika dan mereka tidak punya cukup uang untuk membawa Putri Salju dengan mereka .

Salju tidak ingin paman dan bibinya untuk melakukan hal ini . Jadi, dia memutuskan untuk melarikan diri . Keesokan harinya dia lari dari rumah ketika bibi dan pamannya sedang sarapan , ia melarikan diri ke dalam hutan .

Dalam kayu ia merasa sangat lelah dan lapar . Lalu ia melihat pondok ini . Dia mengetuk tapi tidak ada yang menjawab jadi dia masuk ke dalam dan merasa tertidur

Sementara tujuh kurcaci datang pulang dari kerja . Mereka masuk ke dalam. Di sana, mereka menemukan Putri Salju terbangun . Dia melihat kerdil . Para kurcaci mengatakan , ” Siapa namamu ? ” . Putri Salju mengatakan , ” Nama saya Snow White” . Salah satu kurcaci berkata , ” Jika Anda ingin, Anda dapat tinggal di sini bersama kami ” . Putri Salju menceritakan seluruh kisah tentang dia . Kemudian Putri Salju dan tujuh kurcaci hidup bahagia selamanya 


11. A bear and a lion

A bear and a lion
A bear and a lion

One upon a time a lion and a bear caught and killed a goat. They had a quarrel over it.

“It is mine,” said the bear. “I caught it with my strong paws.”

“It is not yours. It is mine,” said the lion. “I killed it with my strong jaws.”

Then they began to fight over it. They ran up and down the hill, under and over the fallen trees, in and out of the forest. They bit and scratched with their strength, but no one could overcome the other.

At last they both were tired out and could fight no longer. They lay upon the ground, panting and looking at each other.

A fox who was passing by at the time saw them with a dead goat near by. She ran up to them, took the goat home and ate it up.

Terjemahan :

Beruang dan singa

Suatu ketika seekor singa dan seekor beruang menangkap dan mebunuh seekor kambing. Mereka pun berdebat.

“Ini milikku,” kata beruang “Saya menagkapnya dengan kekuatan cakarku.”

“itu bukan milikmu. Itu milikku,” kata singa. “Saya membunuhnya dengan kekuatan rahangku.”

Mereka pun mulai bertengkar. Mereka saling kejar naik turun bukit melewati bawah dan atas batang pohon tumbang, keluar dan masuk hutan. Mereka saling menggigit dan mencakar dengan kekuatan mereka yang mereka miliki, tapi tidak ada yang mampu mengalahkan satu sama lain.

Dan pada akhirnya mereka berdu letih dan tidak bias berkelahi lagi. Mereka berbaring dengan nafas terengah-engah dan saling melihat.

Pada saat yang bersamaan tiba-tiba seekor rubah lewat dan melihat mereka bersama seekor kambing mati di dekatnya. Dia pun mendekat, dan membawa pergi kambing tersebut.


12.The fools of two men

The fools of two men
The fools of two men

Gotham (Go’tem) was a little town in England.

Once there was a man from Gotham going to market to buy sheep. At gotham bridge, he met a man who had just come back from the market.

“Where are you going?” asked the man who had come back to Gotham.

“I am going to market to buy sheep,” answered the other.

“Which way are you going to bring your sheep home?” asked the first man again.

“Over this bridge,” answered the second man.

“You shall not go over this bridge,” said the first man. “You shall go that way,”

“I will go over this bridge,” said the second man.

“You shall not,” said the first man again.

“But I will,” replied the other.

Soon the two men began to fight. They fought and fought until they both got quite hurt.

How foolish they were! They fought over the sheep which were not here.

Terjemahan 

Kebodohan dua orang pria

Gotham adalah sebuah kota kecil di Inggris.

Suatu hari seorang pria dari Gotham pergi ke pasar untu membeli domba. Pada Jembatan Gotham, di bertemu dengan seorang pria yang baru pulang dari pasar.

“mau kemana?” Tanya pria yang baru pulang dari pasar.

“Saya akan ke pasar untuk membeli domba,” jawabnya

“Jalan yang mana akan kamu lalui untuk membawa dombamu pulang ke rumah?” Tanya pria pertama lagi

“Lewat jembatan ini,” jawab pria kedua

“Kamu tidak boleh melewati jembatan ini,” Kata pria pertama. “kamu harus lewat jalan sana,”

“Saya akan lewat jembatan ini,” kata pria kedua

“Tidak boleh,” kata pria pertama

“tapi saya akan tetap lewat sini,” jawab pria kedua.

Akhirnya keduanya pun bertengkar. Mereka berkelahi dan berkelahi sampai mereka kesakitan.

Betapa bodohnya mereka! Mereka mempermasalahkan jalan yang kakan dilalui domba yang belum ada.


Demikian artikel yang dapat IBI sampaikan, semoga dapat bermanfaat dan dapat dijadikan bahan belajar serta menambah informasi untuk sobat IBI semua.

Referensi Materi Lainnya dari IBI yang wajib kita ketahui :