Contoh Biografi Kartini Dalam Bahasa Inggris Beserta Terjemahan Lengkap
Contoh Biografi Kartini Dalam Bahasa Inggris Beserta Terjemahan Lengkap

Contoh Biografi Kartini Dalam Bahasa Inggris Beserta Artinya Lengkap

Posted on

Contoh Biografi Kartini Dalam Bahasa Inggris Beserta Terjemahan Lengkap

 

Contoh Biografi Kartini Dalam Bahasa Inggris Beserta Terjemahan Lengkap
Contoh Biografi Kartini Dalam Bahasa Inggris Beserta Terjemahan Lengkap

Hallo sahabat IBI, masih semangatkah kalian belajar bahasa inggris? Pada materi bahasa inggris kali ini, kita akan membahas mengenai pahlawan Indonesia ya? Hayoo, siapa kira-kira? Siapa yang tidak mengenal R.A kartini, pahlawan wanita Indonesia yang sudah sangat terkenal jasanya.

Berikut ini yuk kita bahas dalam bahasa inggris mengani biografinya, check this out 🙂


One female character is very popular in Indonesia. He is Ajeng Raden Kartini or known as r. a. Kartini, he is known as one of the national heroes who fought for the emancipation of women persistent known when he lived. About biography and profile of r. a. Kartini, born on 21 April the year 1879 in the town of Jepara, date of birth was later commemorated as a day to honor Kartini his nation Indonesia. She was born in the midst of a noble family, therefore he obtained his r. A (Raden Maya) in front of its name, the title itself (Ajeng Raden) used by Notable before she was married, if married then knighted used was r. a. (Raden Ayu) according to tradition.
His father named R.M. Sosroningrat, son of Prince Ario Tjondronegoro IV, a nobleman who served as the Regent of jepara, he this is the grandfather of r. a. Kartini. His father is the person who Sosroningrat R.M. distinguished because of its position at that time as the Regent of Jepara kala Kartini was born.
Kartini‘s mother named M.A. Ngasirah, he this is the son of a kiai or religious teacher in Telukawur, the town of Jepara. According to history, She was a descendant of Sri Sultan Hamengkubuwono VI, some even said that his father’s lineage coming from the Majapahit Kingdom.
The mother of r. a. Kartini i.e. M.A. Ngasirah themselves are not descendants of count, but only the common people only, therefore the Netherlands colonial rule when it requires that a Regent must be married with the count, too, until finally Kartini‘s father then marry a woman named Raden Adjeng This which is a direct descendant of the Raja of Madura.
R. A. Kartini Alongside His Brothers
R. a. Kartini’s own brother has totaled 11 people consisting of brothers and half-brothers. He is the fifth child, but she was the eldest daughter of 11 siblings. As a nobleman, r. a. Kartini also reserves the right to obtain education.
His father then send small Kartini ELS (Europese Lagere School). This is where She later studied Language Netherlands and attended school there until he was 12 years old because it is according to the custom of the time, girls should stay at home to ‘ dipingit ‘.
Despite being at home, r. a. Kartini active in conducting correspondence or correspondence with his friend who is in the Netherlands because he is also fluent in speaking in Netherlands. From then, She got interested with the mindset of a European woman she read from newspapers, magazines and books that he read.
Until then he began thinking of trying to advance the indigenous women because in his mind the position of indigenous women are still lags a long way or has a pretty low social status at that time.
R. a. Kartini read a lot of newspapers or magazines of the European culture that became the customers who speak Dutch, in the usiannya to 20, he read a lot of books by Louis Coperus, entitled De Stille Kraacht, Van Eeden, Augusta de Witt as well as various roman-romanDutch-speaking feminists all of which, he also read books by Multatuli‘s Max Havelaar and love letters.
Religion should keep us from sinning, but how many sins did people in the name of religion(r. a. Kartini). “
His interest in reading then made he has ample knowledge reserved for science and culture, r. a. Kartini pay particular attention on the issue of emancipation of women see a comparison between native women and European women.
He also paid attention to the social problems that occur according to him, a woman needs to obtain the equation, freedom, autonomy and equality law.
Letters that kartini wrote more in the form of complaints about the conditions of indigenous women, where he saw examples of Javanese culture that when it’s more inhibiting progress of indigenous women. He also revealed in his writing that there are many obstacles faced by indigenous women in particular in Java in order to get more advanced.
Kartini wrote down the suffering of women in Java, such as dipingit, should be non-free in menuntuk science or study, as well as the existence of a customary curb freedom of women.
The lofty ideals of r. a. Kartini is he would like to see indigenous women can study and learn what it is today. New ideas about equality or women’s emancipation of indigenous sports Kartini, considered to be new things that can change the views of the community. In addition, Kartini‘s writings also contain about i.e. meaning Divinity, wisdom and beauty, humanity and the fairies also nationalism.
Kartini also mentions religion, for example, he questioned why men can berpoligami, and why why scripture must be read and remember without the need to understand it.
His Netherlands women friends of Rosa Abendanon, and Estelle “StellaZeehandelaar also supports the thoughts expressed by r. a. Kartini. History says that she was allowed by her father to become a teacher in accordance with the goals but he was forbidden to continue his studies to study in Batavia or into the Netherlands.
Through to the end, he could not melanjutanya his study to become a teacher in Batavia or
Advertisement
any College in the country Netherlands though when he received a scholarship to study there because in 1903 at the time of r. a. Kartini was about 24 years old, she was married to Duke K.R.M. Ario Singgih Ali Adhiningrat who was a Duke and also Regent in Rembang which already has three wives.
Despite that, the husband r. A Kartini to understand what being A KArtini r. wishes that he was then given the freedom to establish schools, the first woman who then stood next to government offices Rembang which then is now known as Boy Scout Building.
The Marriage Of R. A. Kartini Until His Death
From her marriage to the Duke of Ario K.R.M. Singgih Ali Adhiningrat, r. a. Kartini later gave birth to a son named Soesalit Djojoadhiningrat who was born on September 13, 1904, However sad, a few days later after giving birth to her first, r. a. Kartini died on September 17, 1904 at a very young age that is 24 years. He was buried in the village, Rembang.
Thanks to his struggle then in 1912, the school stood by the Woman she was in Semarang then extends to Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon and other areas. The school was later renamed “School of Kartini” in honor of his services. Kartini Foundation is the family Van Deventer, a prominent colonial era of ethical Politics Netherlands.

Tokoh wanita satu ini sangat terkenal di Indonesia. Dialah Raden Ajeng Kartini atau dikenal sebagai R.A Kartini, beliau dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang dikenal gigih memperjuangkan emansipasi wanita kala ia hidup. Mengenai Biografi dan Profil R.A Kartini, beliau lahir pada tanggal 21 April tahun 1879 di Kota Jepara, Hari kelahirannya itu kemudian diperingati sebagai Hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya pada bangsa Indonesia.

 

Kartini lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan oleh sebab itu ia memperoleh gelar R.A (Raden Ajeng) di depan namanya, gelar itu sendiri (Raden Ajeng) dipergunakan oleh Kartini sebelum ia menikah, jika sudah menikah maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan adalah R.A (Raden Ayu) menurut tradisi Jawa.

Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara, beliau ini merupakan kakek dari R.A Kartini. Ayahnya R.M. Sosroningrat merupakan orang yang terpandang sebab posisinya kala itu sebagai bupati Jepara kala Kartini dilahirkan.

Ibu kartini yang bernama M.A. Ngasirah, beliau ini merupakan anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini merupakan keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa garis keturunan ayahnya berasal dari kerajaan Majapahit.

Ibu R.A Kartini yaitu M.A. Ngasirah sendiri bukan keturunan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa saja, oleh karena itu peraturan kolonial Belanda ketika itu mengharuskan seorang Bupati harus menikah dengan bangsawan juga, hingga akhirnya ayah Kartini kemudian mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan seorang bangsawan keturunan langsung dari Raja Madura ketika itu.
R.A Kartini Bersama Saudara-Saudaranya
R.A Kartini sendiri memiliki saudara berjumlah 11 orang yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tiri. Beliau sendiri merupakan anak kelima, namun ia merupakan anak perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai seorang bangsawan, R.A Kartini juga berhak memperoleh pendidikan.

Ayahnya kemudian menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun sebab ketika itu menurut kebiasaan ketika itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk ‘dipingit’.

Pemikiran-Pemikiran R.A Kartini Tentang Emansipasi Wanita
Meskipun berada di rumah, R.A Kartini aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda sebab beliau juga fasih dalam berbahasa Belanda. Dari sinilah kemudian, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca.

Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi sebab dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu.

R.A Kartini banyak membaca surat kabar atau majalah-majalah kebudayaan eropa yang menjadi langganannya yang berbahasa belanda, di usiannya yang ke 20, ia bahkan banyak membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt serta berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa belanda, selain itu ia juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu – (R.A Kartini).”

Ketertarikannya dalam membaca kemudian membuat beliau memiliki pengetahuan yang cukup luas soal ilmu pengetahuan dan kebudayaan, R.A Kartini memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita melihat perbandingan antara wanita eropa dan wanita pribumi.

Selain itu ia juga menaruh perhatian pada masalah sosial yang terjadi menurutnya, seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum.

Surat-surat yang kartini tulis lebih banyak berupa keluhan-keluhan mengenai kondisi wanita pribumi dimana ia melihat contoh kebudayaan jawa yang ketika itu lebih banyak menghambat kemajuan dari perempuan pribumi ketika itu. Ia juga mengungkapkan dalam tulisannya bahwa ada banyak kendala yang dihadapi perempuan pribumi khususnya di Jawa agar bisa lebih maju.

Kartini menuliskan penderitaan perempuan di jawa seperti harus dipingit, tidak bebas dalam menuntuk ilmu atau belajar, serta adanya adat yang mengekang kebebasan perempuan.

Cita-cita luhur R.A Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Gagasan-gagasan baru mengenai emansipasi atau persamaan hak wanita pribumi olah Kartini, dianggap sebagai hal baru yang dapat merubah pandangan masyarakat. Selain itu, tulisan-tulisan Kartini juga berisi tentang yaitu makna Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan, peri kemanusiaan dan juga Nasionalisme.

Kartini juga menyinggung tentang agama, misalnya ia mempertanyakan mengapa laki-laki dapat berpoligami, dan mengapa mengapa kitab suci itu harus dibaca dan dihafal tanpa perlu kewajiban untuk memahaminya.

Teman wanita Belanda nya Rosa Abendanon, dan Estelle “Stella” Zeehandelaar juga mendukung pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh R.A Kartini. Sejarah mengatakan bahwa Kartini diizinkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang guru sesuai dengan cita-cita namun ia dilarang untuk melanjutkan studinya untuk belajar di Batavia ataupun ke Negeri Belanda.

Hingga pada akhirnya, ia tidak dapat melanjutanya cita-citanya baik belajar menjadi guru di Batavia atau
Advertisement
pun kuliah di negeri Belanda meskipun ketika itu ia menerima beasiswa untuk belajar kesana sebab pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

Meskipun begitu, suami R.A Kartini memahami apa yang menjadi keinginan R.A KArtini sehingga ia kemudian diberi kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita pertama yang kemudian berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang kemudian sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Pernikahan R.A Kartini Hingga Wafatnya
Dari pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, R.A Kartini kemudian melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904, Namun miris, beberapa hari kemudian setelah melahirkan anaknya yang pertama, R.A Kartini kemudian wafat pada tanggal 17 September 1904 di usianya yang masih sangat muda yaitu 24 tahun. Beliau kemudian dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.

Berkat perjuangannya kemudian pada tahun 1912, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang kemudian meluas ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya. Sekolah tersebut kemudian diberi nama “Sekolah Kartini” untuk menghormati jasa-jasanya. Yayasan Kartini ini keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di era kolonial Belanda.


Semoga bermanfaat untuk sobat IBI semua 🙂

-Wanita adalah generasi pencetak bangsa-


loading...